Minggu, 27 Februari 2011

Sadar atau Tidak, Kita Telah Menikmati Ketidakberdayaan Kita

Terlalu banyak peristiwa mengenaskan terpampang di sekitar kita. Bagaikan sampah yang berserak pasca acara konser band di lapangan. Air mata tak mau lagi keluar dari kelopaknya, entah karena telah kering ataukah tidak ada lagi kepedulian. Atau mencoba menutupi kesedihannya dengan menyalahkan mereka sebagai kelompok pemalas. Atau mencoba bersabar, bahwa semua itu adalah cobaan yang memang bisa menimpa siapa saja.
Ada sayatan plus rasa nyeri setiap melewati jalan-jalan sempit sepulang kerja kantor. Hampir setiap hari saya melewati jalan itu. Setiap hari juga sayatan itu mengenai hati saya yang mungkin terlalu sensitif.

Anak-anak berwajah kuyu dengan pakaian lusuh meramaikan jalan sempit itu. Sambil mengendari motor dengan sangat pelan dan kehati-hatian, saya lirik kanan kiri. Rumah-rumah sempit tak berjendela berjejal sepanjang jalan. Anak-anak kecil satu-satu muncul dari pintu-pintu rumah tanpa teras itu.

“Masa kecil yang minim keceriaan,” batin saya.

Ya, terlalu banyak penderitaan yang dialami orang-orang sekitar kita. Terlalu banyak orang yang perlu mendapatkan perhatian dan bantuan dari kita. Lihatlah di tepi-tepi jalan, betapa banyak kaum tunawisma sebutan ‘halus’ dari gelandangan, hidup di beralaskan tanah beratapkan langit. Makan apa yang ada di depannya, meski dari bak-bak sampah. Lihatlah lagi, masih di tempat yang sama, anak-anak ‘tanpa masa depan’. Menyanyi sekenanya dengan peralatan seadanya sambil menengadahkan tangan berharap uang receh jatuh ke tangannya. Atau yang lebih ‘mendingan’ para ‘senior’nya dengan peralatan dan suara yang lebih layak. Membawakan lagu-lagu jalanan yang lebih banyak berisi kritikan kepada para penguasa yang tak peduli kepada rakyatnya.

Pada view yang lebih luas, terpampang banyak cerita penderitaan rakyat jelata di seantero nusantara. Seorang ibu tega membunuh anak-anaknya sebelum mengakhiri hidupnya karena tidak tahan kemiskinan yang menderanya. Seorang nenek terpaksa mencuri karena tak ada lagi yang bisa dimakan untuk mempertahankan hidupnya. Atau seorang ayah muda harus melakukan perbuatan dilarang oleh agama maupun pemerintah agar tetap bisa menyekolahkan anaknya, untuk sekedar membayar uang buku pelajaran.

Deretan cerita penderitaan rakyat tak berhenti sampai di situ saja. Mungkin persediaan kertas di kantor akan habis, pun di toko-toko kertas atau di super market-super market, untuk menuliskan deretan cerita unhappy dari negeri kaya raya tapi penuh derita ini. Sepasang suami istri tidak bisa lagi mengeluarkan air matanya, pun ungkapan kemarahnya. Tidak bisa lagi harus berbuat apa saat menggendong anaknya yang tengah sekarat dan butuh pertolongan, namun apa daya, niat mulianya menolong anaknya tidak bisa terlaksana. Pihak rumah sakit menolak merawatnya dengan alasan yang tidak bisa mereka mengerti. Lain lagi yang dialami rakyat jelata lainnya di tempat yang berbeda. Seorang ayah tega membiarkan anak-anaknya hidup tanpa masa depan yang lebih. Biaya pembelian buku, pakaian seragam dan lain-lain, menyebabkan ia tidak kuasa menyekolahkan anak-anaknya.

Di sisi lain, negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, cerita kehidupan segelintir orang yang bergelimang harta tak pernah berhenti menghiasi media. Televisi atau koran dan majalah. Yang lebih menyakitkan adalah kegelimangan harta itu didapat dari cara yang tidak halal alias korupsi, penggelapan, bermain curang dan sebangsanya.

Di sapanjang jalan yang saya lalui setiap hari, tidak sedikit cerita itu tertutur. Cerita menyayat hati, menggores luka yang semakin lama semakin dalam. Kondisi tak berbeda saat saya sesekali naik bis kota, metro mini atau kopaja, tidak menggunakan motor saya yang sudah mulai batuk-batuk kalau untuk berjalan cepat. Sekumpulan anak muda atau bahkan ada yang masih sangat muda, menyanyi dengan iringan alat sederhana atau hanya sekedar tepukan tangan. Setiap mau bepergian dengan menggunakan bis kota, saya selalu sediakan uang seribuan (lima ratusan sudah tidak dapat apa-apa di Jakarta) untuk mereka. Saya tidak sependapat dengan segelitir orang yang mengatakan bahwa mereka adalah kaum pemalas. Mau enaknya saja.

Benarkah mereka pemalas, saya berpikir berkali-kali untuk bisa menerima ungkapan itu. Namun, tetap saja tidak bisa menemukan alasan untuk menerimanya. Keadaanlah yang membuat mereka seperti itu. Akan tetapi, apapun alasannya, kini mereka adalah orang-orang yang membutuhkan bantuan. Membutuhkan belas kasihan, terlepas dari apa latar belakang sosial, politik, maupun pendidikan mereka.

Beberapa teman sepakat dengan apa yang saya ungkapkan. Bahwa mereka yang kesusahan, yang dengan terpaksa harus meminta-minta apapun modus operandinya, kalau ditanya, hati kecilnya pasti tidak menginginkan itu. Kalau ada pilihan, mereka akan memilih yang lainnya. Sekali lagi, pilihan itu tidak ada pada mereka. Hanya itu ide mereka.

Kemiskinan terstruktur, kata salah seorang temanku.

Kemikinan sistemik, kata yang lainnya.

Ya Allah, hamba mohon ampun atas ketidakberdayaan ini.
Kadang saya bertanya pada diri saya sendiri. Siapa seharusnya yang bertanggung jawab atas mereka? Saya, atau yang lainnya? Rasulullah saw pernah berpesan mengenai kepedulian terhadap tetangganya. Intinya agar tidak sampai terjadi pada diri kita bahwa jangan sampai ada tetangga yang tidak bisa tidur karena kelaparan, sementara kita sendiri tertidur nyenyak karena kekenyangan. Ya rabb, atas ini hamba memohon ampunan-Mu. Bukan hamba tidak mau, tetapi hamba tidak berdaya.

Ingin sekali saya membantu semua orang yang kesusahan, tapi apa daya. Ingin sekali saya mencukupi kebutuhan mereka tetapi tak satu pun yang bisa saya perbuat. Kadang muncul pertanyaan di dalam diri saya. Bukankah seharusnya ini adalah tugas pemerintah? Bukankah mereka seharusnya dicukupi oleh pemerintah, sesuai UUD 1945? Bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara?

Sungguh saya, dan mungkin juga teman-teman saya yang lain sangat tidak berdaya menghadapi penderitaan mereka.

Yang bisa diperbuat kini hanyalah, memejamkan mata rapat-rapat, menutup telinga kuat-kuat, membungkus hati dengan kain yang sangat tebal. Bukan apa-apa, hanya karena menginginkan ketanangan hidup, kenyamanan perasaan. Tanpa ‘gangguan’ mereka. Tanpa penderitaan mereka.

Untuk menghibur diri, hatinya memaksakan diri berkata,”Ah biarlah, mereka bukan tanggung jawab saya.” Atau ungkapan lain,”Tenang saja, mereka hanya pura-pura. Toh saya sudah pernah peduli dengan mereka.”

Yah. Akhirnya banyak orang merasa terbebas dari urusan penderitaan mereka. Akhirnya mereka merasa tidak mempunyai tanggung jawab atas penderitaan kaum papa tak berdaya. Orang-orang yang hidup tanpa rumah, tanpa kejelasan makan atau tidak, bahkan tanpa busana yang berbeda hari demi hari. Kita telah menikmati ketidakberdayaan kita.
Wallahu a'lam bishshawab

Jumat, 30 April 2010

MENCABUT AKAR KORUPSI DI DITJEN PERBENDAHARAAN

koruptorGenderang perang melawan korupsi di lingkungan Ditjen Perbendaharaan telah ditabuh. Tidak tanggung-tanggung. Genderang perang itu ditabuh oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indarwati, saat meresmikan 18 KPPN Percontohan, 30 Juli dua tahun lalu.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa munculnya ide mendirikan KPPN Percontohan ini adalah berawal dari rasa keprihatinan adanya praktek pungli yang sangat meresahkan di KPPN-KPPN pada waktu itu. Untuk menghilangkannya, diperlukan keberanian. Upaya memotong generasi dan mengubah mindset pegawai dilakukan, apapun resiko yang akan ditanggung. Pembatasan umur pegawai yang berhak mengkuti seleksi adalah upaya memotong generasi itu. Selanjutnya, mindset pun dibentuk. Dibuatkan Standard Operating Procedure sebagai acuan kerja. Dan hasilnya, cerita pungli seperti terjadi di masa lalu, kini tidak ada lagi. Tidak terdengar lagi, bukan karena ditutup-tutupi, tetapi memang benar-benar tidak terjadi lagi.

Upaya-upaya mencabut akar korupsi di Ditjen Perbendaharaan terus berjalan tanpa henti. Setiap ada pegawai yang dipromosikan menduduki jabatan esselon baru, selalu diadakan pembekalan. Gerakan mengubah mindset para pejabat. Reformasi birokrasi itu bukan sekedar berganti baju. Tetapi mengubah mindset. Inilah cara melawan korupsi ala Dirjen Perbendaharaan, Herry Purnomo. Mencabut sampai akar-akarnya, biar tidak bisa tumbuh lagi.
Disamping itu, upaya mencegah korupsi dan terapi mental para pegawai juga dilakukan. Pada saat Dirjen Perbendaharaan mendapati kasus korupsi, suap atau sebangsanya, langsung dilakukan shock terapy bagi pegawai yang lain. Sanksi Berat telah dikeluarkan, meski pegawai yang melakukan itu bukan di KPPN Percontohan.

Kasus yang terjadi di sebuah KPPN (Non Percontohan) yang pegawainya bukan hasil seleksi, menjadi contoh. Tidak ada toleransi bagi mereka yang menerima ’amplop’. Tidak ada permakluman karena bukan KPPN Percontohan, meski sebenarnya Dirjen Perbendaharaan bisa saja beralasan mereka belum menjadi objek reformasi. Artinya, para pegawai memang belum ‘diganti’ kepalanya. Jadi kalau masih mau menerima uang tanda terima kasih adalah wajar. Tetapi, sanksi tetap dijatuhkan. Dari pelaksana hingga kepala kantornya. Tidak ada toleransi. Hati tidak bergetar yang kemudian mengajak kakinya surut ke belakang mendengar tangisan mereka yang terkena sanksi. Yang ada di benak Dirjen Perbendaharaan hanya satu suap dan korupsi, sekecil apapun, harus hilang dari Ditjen Perbendaharaan. Ini tidak main-main. Bukan upaya pencitraan di media massa, karena bukan itu sasarannya, dan memang tidak ada media massa yang meliput gerakan reformasi di Ditjen Perbendaharaan. But, beurocratic reform must go on.

Dalam setiap kesempatan, Direktur Jenderal Perbendaharaan, Herry Purnomo, berpesan, ”Katakan no, ketika atasan meminta uang setoran.” Begitu juga pesan Sesditjen, K. A. Badaruddin. Pembekalan ini dilakukan agar mindset Anda-anda ini berubah. Kami pimpinan di sini, Pak Dirjen, saya dan juga pimpinan yang lain tidak ingin ada kasus pegawai Ditjen Perbendaharaan menerima amplop.

Mengomentari reformasi birokrasi di Ditjen Perbendaharaan, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indarwati berpesan, ”Jaga sistem yang sudah baik ini. Jangan sampai nila setitik rusak susu sebelanga.”

Jadi, adakah yang lebih serius dan masif gerakannya dalam memberantas korupsi dari ini? Masih adakah pegawai yang berani menerima atau mencari-cari amplop? Pasti akan segera dicabut, sampai ke akarnya!!

Rabu, 14 April 2010

TIDAK ADAKAH CARA YANG LEBIH ARIF?

Sungguh hatiku berdebar. Jantungku saolah tak mau berdetak. Seorang sopir taksi, menurut pandangan mata, sudah sangat tua untuk ukuran seorang pekerja. Mestinya sudah saatnya menikmati hari tua, tetapi ini masih bekerja menjadi sopir taksi. Bapak tua sedang teriak sekeras-kerasnya sambil tangannya mengepal ke arah bawah. Wajahnya mengeras, tubuhnya mengejang. Entahlah, karena marah atau justru karena takut. Seorang polisi yang lagi menginterogasi pak tua dengan berteriak-teriak, tangan menggenggam keras sambil telunjuk hampir menempel di muka pak tua.

Hatiku trenyuh. Entah mengapa aku teringat wajah kurus bapakku yang sudah lama meninggal dunia. Aku bertanya di dalam hati, tidak adakah cara lain yang lebih pantas dalam bertanya dengan orang yang lebih tua. Memang dia hanya seorang sopir. Bahkan mungkin memang dia sudah melakukan kesalahan. Dia mungkin juga sadar sedang berhadapan dengan siapa. Dia mungkin mengakui bahwa dirinya hanya seorang sopir yang sudah melakukan kesalahan dan sekarang sedang berahadapan dengan seorang polisi muda di jalan raya. Menurut perasaanku saat itu dan terbawa hingga sekarang, tindakan polisi itu tidak pantas, dilihat dari sudut manapun.

Coba seandainya semua orang yang sedang memegang kekuasaan sekecil apapun kekuasaan itu seperti polisi yang sedang menanyai sopir itu, berbicara berdasarkan perasaan yang paling dalam, mungkin tindakan itu tidak akan ada. Di sepanjang perjalanan, hatiku terus bertanya-tanya, kenapa sih harus begitu. Coba seandainya yang dihadapi itu ayahnya sendiri yang sudah renta. Atau, seandainya suatu saat nanti, ketika polisi itu sudah tua renta. Dan entah karena apa, dengan sangat terpaksa berubah profesi menjadi sopir taksi, dan kebetulan juga melakukan kesalahan dan ketangkap polisi, maukah diperlakukan seperti itu. Diteriakki sekencang-kencangnya sambil telunjuknya mengarah ke mukanya, bagaimana rasanya. Tidak adakah cara yang lebih arif dalam memecahkan persoalan. Oh manusia...tidak perlu menunjukkan kekuasaannya dengan cara seperti itu. Orang sudah tahu.

Belum lagi terjawab pertanyaan hatiku, esoknya, pagi-pagi sekali, ada berita dari tivi, terjadi bentrokan berdarah di Tanjung Priok Jakarta. Di atas permakaman pula. Ada yang tewas, lebih dari seratus korban terluka. Satpol PP melawan warga yang menolak penggusuran makam. Masya Allah...Tidak adakah cara yang lebih arif dalam menyelesaikan sesuatu. Aku selalu berandai-andai. Seandainya para pemimpin yang berkuasa memberi perintah mau bersikap arif... Andai para anggota satpol PP mau bersikap arif... Andai warga mau bersikap arif...tentu tidak akan terjadi peristiwa memalukan dan juga memilukan itu.

Tidak kah terlintas di pikiran ketika seorang petugas mengayunkan pentungan atau apa saja ke arah seorang warga yang kebetulan anak-anak, bahwa seandainya yang di depannya, yang siap menerima pentungan itu anaknya sendiri...masih tegakah?

Tidak kah berpikir, ketika seorang warga mengayunkan goloknya, dan yang di depannya ternyata kakaknya sendiri, atau bapaknya atau anaknya, masihkah akan diteruskan ayunan mematikannya itu? Duh Gusti... berilah penduduk negeri ini limpahan kasih sayang-Mu yang tak pernah berhenti...

Kalau saja petugas satpol PP itu mau berpikir sebentar saja ketika hendak membolduser makam dan sekitarnya, atau membolduser rumah-rumah penduduk yang belum jelas status hukumnya apakah benar atawa salah, seandainya istri, anak, menantu, orang tua, mertua ada di situ, tinggal di situ, mencari nafkah di situ, masih akankah melanjutkan tugas dengan kekerasan?

Tidak adakah cara lain yang lebih arif? Ah seandainya semua orang mau bertanya dulu kepada kata hati yang paling dalam sebelum bertindak....Ya Rabbi...ampuni kami...

Senin, 22 Maret 2010

Kulihat ketulusan di matanya...

Siang itu (Sabtu, 20 Maret 2010) aku berkumpul dengan teman-teman mau pergi ke lapangan Monumen Nasional (Monas). Ada pesan untuk ikut acara munashoroh (aksi kepedulian dan penggalangan dana) untuk bangsa Palestina. Beberapa orang berkumpul menunggu bis yang sudah disiapkan. Sambil menunggu, satu persatu aku tatap wajah-wajah mereka. Entah apa sebabnya, hati tergetar dan mataku basah. Buru-buru aku usap, sebab tak ingin ada yang melihat kejadian ini.

Mata-mata itu menyiratkan ketulusan. Mereka dengan antusias mengikuti setiap apa yang diminta oleh gurunya, termasuk acara munashoroh ini. Inilah prototip kawulo alit, rakyat jelata, orang kecil atau wong cilik, mereka mengikuti acara apapun baik acara sosial maupun politik tanpa memperhitungkan apa manfaatnya buatku. Mereka sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami patuh) terhadap setiap qararat (perintah) yang mampir padanya. Tidak dibayar, tidak juga diintimidasi. Mereka berangkat dengan sukarela dan senang hati. Tanpa bicara, tanpa keluhan, mereka berangkat menerjang hujan dan berhimpitan di bis Metromini yang kapasitasnya sangat terbatas.

Sesampainya di lapangan monas, hatiku lebih bergetar lagi. Teriakan Ustadzah Yoyoh Yusroh dan Ustadz Hidayat Nurwahid seperti mendidihkan darah di setiap aliran nadi. Lantunan nasyid yang diiringi drum yang menggelegar mampu menegangkan setiap otot untuk menyalurkan kekuatan yang berujung teriakan “Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar”. Di samping kanan, kiri, depan dan belakangku berjejal para kader dan simpatisan yang dengan penuh semangat menyambut setiap seruan. Aku sangat suka memandangi wajah-wajah mereka secara sembunyi-sembunyi. Aku menikmati ketulusan mereka. Dan setiap menemukan ketulusan itu, hatiku bergetar dan terasa ada air di mataku yang dengan buru-buru kuusap agar tidak ada yang mengetahuinya.

Entah kenapa, setiap melihat wajah-wajah mereka yang menyiratkan ketulusan itu, pikiranku melayang kepada peristiwa-peristiwa politik di negeri ini. Kebijakan-kebijakan politik orang-orang ‘hebat’, orang-orang ‘atas’, para pemimpin negeri ini. Pernahkah mereka melihat apa yang aku lihat dan aku rasakan ini? Meski secara ilmiah aku tidak tahu apa pengaruhnya dengan sikap pengambilan kebijakan bagi mereka, tetapi aku pikir mereka seharusnya sering-sering menatap wajah-wajah mereka, kawulo alit alias rakyat jelata. Ada ketulusan yang dapat memberikan energi luar biasa dalam mengambil sebuah keputusan.

Aku berpikir, seandainya orang-orang ’atas’ mau sejenak menengok ke bawah, menyempatkan diri di sela kesibukan yang begitu padat, tentu akan sangat bagus akibatnya untuk kedua belah pihak. Kekecewaan wong cilik terjadi karena sering kali realita di lapangan tidak sesuai yang mereka harapkan. Dan harapan mereka tidaklah tinggi. Hanya sekedar ingin melihat konsistensi ‘orang-orang atas’ yang sudah mereka percaya. Hanya itu. Mereka tidak mempermasalahkan apa yang sudah didapat oleh orang-orang pilihan tersebut. Hanya itu. Betul hanya itu. Hanya berharap bahwa mereka, orang-orang atas itu, tetap berada pada kepribadian seperti di saat merek dipilih dahulu.
Aku melihat ada ketulusan di mata mereka...jangan kecewakan mereka...

Sabtu, 13 Maret 2010

Mengukur Rasa Syukur Kita

Adalah karakter bawaan manusia yang menjadikan mereka tak pernah lepas dari rasa gundah gulana. Meski sebenarnya hal itu bisa ditangkal jika kita mau berusaha. Innal insaana khuliqa halunu’a, sesungguhnya manusia diciptakan penuh keluh kesah. Tetapi, bukan berarti itu paten, tidak bisa berubah. Bahkan sifat itu menjadi salah satu tantangan kita untuk menjadi manusia pilihan yang dimuliakan Allah jika kita dapat menundukkannya.

Keluh kesah jelas bukan sumber kebahagiaan, meski si empunya mencoba mencari ketenangan dengan itu. Mencoba mencari kesalahan pihak lain adalah cara paling mudah untuk mengutuk keadaan dirinya, dari pada harus mengoreksi diri sendiri yang sering mendatangkan rasa sakit di hati. Langkah ini dianggap dapat mendatangkan ketenangan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Falsafah orang jawa bisa dijadikan contoh untuk mendapatkan ketenangan ini. Untung. Ya, dalam keadaan apapun selalu untung. Setelah mengetahui rumahnya dirampok orang tak dikenal, si empunya rumah berucap,”Untung, istri dan anaknya selamat.” Untung, hanya harta yang diambil, bukan nyawa saya.

Rasulullah pernah berpesan kepada para sahabat, sungguh menkjubkan sifat seorang muslim. Semua keadaan selalu dipandang baik. Jika mendapat nikmat dia bersyukur, itu baik baginya, jika mendapat musibah, ia bersabar dan itu baik baginya.

Syukur dan sabar menjadi dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Bagai dua sisi mata uang yang saling menguatkan makna. Mensyukuri setiap apa yang kita dapatkan dari Allah, dengan perantara usaha kita, dapat kita lakukan dengan dukungan kesabaran terhadap kekurangan hasil atau diri yang kita hadapi. Tanpa dukungan kesabaran, yang ada adalah keluhan. Sudah merasa berbuat banyak, tetapi tidak memberikan hasil yang maksimal. Ujung-ujungnya mencari kambing hitam atau menuduh Allah tidak adil.

Ketidaktenangan hidup kita adalah akibat pikiran kita sendiri. Rasa was-was jangan-jangan ada orang yang akan berbuat jahat pada saya, atau jangan-jangan saya dikhianati oleh orang yang disayangi atau apapun pikiran-pikiran negatif. Termasuk ’tuduhan’ bahwa Tuhan tidak adil. Saya sudah berbuat banyak kebaikan tetapi kenapa justru banyak yang berbuat jahat pada saya. Begitu seringkali pikiran kita mengarahkan. Padahal benarkah demikian.

Adalah kesalahan kita sendiri manakala kita terpuruk pada kesedihan. Adalah kebodohan kita jika hidup kita hancur. Sebab, sesungguhnya, hidup kita sepenuhnya kita yang menentukan atas pertolongan dan ketetapan Allah. Bukan orang lain. Bukan orang lain yang memberi warna apakah merah, hijau, kuning, putih atau abu-abu bahkan hitam kelam. Semuanya tergantung kita sendiri.

Rasa syukur akan menjadikan kita tenang. Dan syukur yang benar adalah melihat pemberian dr Tuhan adalah suatu yang besar, meski kita seringkali menganggapnya kecil. Sekecil apapun pemberian dr Allah, harus kita lihat sebagai suatu karunia yang sangat besar. Sebab, siapapun kita, sepandai apapun, sehebat apapun, sedetikpun tidak bisa lepas dari kekuasaan Allah. Tanpa pertolongan-Nya, kita tak dapat berbuat apa-apa. Tanpa bimbingan ilmu dari Allah, kita bukan siapa-siapa.

Karunia dr Allah tidak ada kaitannya dengan pengorbanan kita, pengabdian kita, ibadah kita, atau apapun yang sudah kita persembahkan.

Pernahkah kita berpikir, mengapa Allah memberikan jaminan rizki kepada kita bahkan jaminan untuk dua tahun lamanya untuk kita, padahal kita belum berbuat apapun untuk Allah. Bahkan kita belum mengenal siapapun. Jadi sebab apa Allah memberikan rizki itu untuk kita??

Rizki atau karunia Allah untuk kita tidak ada hubungannya dengan pengabdian dan pengorbanan kita pd Allah. Yang ada adalah, bahwa kitalah yang harus menanggapi pemberian itu dengan baik. Dengan mengikuti apa yang Dia kehendaki. Itulah cara kita mensyukuri nikmat yang ada pada kita. Coba saja...

Senin, 21 Desember 2009

Balasan Kebaikan adalah kebaikan begitu pun sebaliknya...

Dua berita yang cukup mengejutkan datang hampir bersamaan. Saya tidak tahu, apakah ini berita gembira atau berita duka. Tapi yang jelas ini ada kaitannya dengan perjalanan hidup saya yang berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain di negeri ini.

Seorang teman di kota P, tempat saya bermukim selama 6 tahun di sana, mengabari bahwa Fajrul (bukan nama sebenarnya) dan Amrul (juga bukan nama sebenarnya) sekarang tidak ketahuan rimbanya. hilang karena dikejar-kejar banyak orang. Mereka berdua melarikan diri karena jiwanya terancam oleh orang-orang di kota tersebut. Meski permasalahan keduanya berbeda, tetapi akbiatnya hampir sama. Saya tidak suka mendengar berita itu. Sebab bagaimanapun, saya sempat sangat dekat dengan mereka berdua. saya sangat menaruh kepercayaan yang tinggi kepada mereka berdua. meski kepercayaanku itu berujung pada suatu yang sangat tidak saya duga. sangat menyakitkan hati saya. tetapi saya biarkan saja. toh saya tidak akan selamanya tinggal di kota tesebut dan bersama mereka berdua selamanya.

Sewaktu di kota itu saya memimpin sebuah LSM yang bergerak di bidang pendidikan. Saya tidak pernah berhenti untuk berinovasi dan berkreasi untuk melakukan pendampingan bagi anak-anak sekolah (SMP, SMA dan SMK). Hampir semua guru dan siswa di sekolah-sekolah favorit mengenal saya. Meski saya mengakui bahwa ini adalah hasil kerja yang sangat baik tim saya. mereka sangat kompak dan bersemangat. setiap keputusan organisasi adalah bukan keputusan saya. saya melibatkan semua anggota LSM tersebut. sejak awal saya mengatakan bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan kita. agenda ini adalah agenda kita. tak satupun di antara kita, siapapun, termasuk saya berhak mengklaim bahwa ini adalah kerja pribadi. ini adalah kerja kelompok. kerja tim. agenda bersama. ide yang sudah digulirkan menjadi ide bersama, tidak boleh ada yang mengklaim bahwa ini adalah ide si fulan atau si fulan.

Tak ada yang saya harapkan, apapun. Semangat saya adalah panggilan jiwa. itu saja. Saya tidak mengharapkan apapun termasuk tidak mengharapkan bahwa di aktifitas saya berujung fitnah terhadapku. Tersebar di antara teman-teman di sana bahwa saya mencari popularitas. Mementingkan diri sendiri. Jadilah diri saya sebagai buah bibir di antara teman2. beruntung kalau yang dibicarakan itu tentang hal positif. tetapi ini sebaliknya. Saya hanya bisa menghela nafas. tidak ada yang bisa saya perbuat. tetapi saya masih bersyukur bahwa semua anggota tim saya tetap percaya kepada saya. saya mencoba berdialog dengan mereka dan kesimpulannya mereka tidak percaya dengan fitnah tersebut. Dan saya tahu dari seseorang yang bersimpati kepada saya bahwa P Amrul adalah orang yang menyebarkan fitnah tersebut. Saya sangat kaget pada waktu itu, sebab saya sangat besar kepercayaan saya kepada beliau. Saya tidak bersikap apapun. saya tetap bekerja sesuai dengan tugas saya pada waktu itu. keyakinan saya adalah bahwa, suatu saat kebenaran itu pasti akan terungkap. Fitnah kedua adalah bahwa saya dituduh telah melakukan perbuatan keji, yang tidak pantas dilakukan oleh seorang panutan. saya kembali tidak berdaya, penjelasan sudah saya sampaikan, tetapi apa lacur, berita terus tersebar bagaikan angin yang terus berhembus. Saya tidak tahu apakah karena ini, ketika saya pindahan pergi meninggalkan kota itu, tak satupun di antara mereka, teman-temanku yang saya sangat menaruh kepercayaan, tak satupun dari mereka yang datang ke rumah saya meski sekedar basa-basi. tetapi saya tak peduli. sebab hidup saya tidak bergantung kepada masnusia, tetapi kepada Allah, Tuhan Yang Maha Berkuasa. Mr Fajrul, orang yang paling dituakan dan dipercaya, yang saya pun sangat hormat dan percaya kepadanya, memutuskan bahwa saya bersalah. Beliau lebih mengikuti berita yang sudah tersebar. dan saya kembali tak berdaya. saya pikir biarlah waktu yang akan membuktikan. sebab Allah mencintai kebenaran dan akan membela hamba-hamba-Nya yang benar.

Saya tidak suka mendegar berita tentang permasalahan yang menimpa dua sahabatku itu. Mata saya menghangat secara tiba-tiba waktu saya mendengar berita itu. saya mencoba menghubungi nomor HP mereka, tetapi tak pernah berhasil, sampai sekarang. Semoga Allah mengampuni segala dosanya dan menolongnya. Saya sangat menaruh empati kepada mereka berdua juga istri dan ank-anak mereka yang ditinggalkannya. Tentu sangat sulit bagi istiri-istrinya berjuang sendiri tanpa didampingi suaminya yang entah berada di mana.

Berita kedua datang dari kota P yang lain. Seorang sahabat saya bernama Ramadhan (bukan nama sebenarnya) terkena strok. Kabarnya, separuh tubuhnya kini nyaris tidak dapat difungsikan lagi. Air mata saya sempat menetes pada waktu mendengarnya. Bagaimanapun Ramdahan adalah sahabat saya, meski menjelang kepindahan saya, dia berbuat sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya. Pada waktu itu kami terlibat utang piutang. Uang 7 juta rupiah saya berada di tangannya. sehari setelah saya mendapatkan SK pindah, saya meminta untuk dikembalikan. tetapi sampai menjelang keberangkatan, uang itu tidak juga dikelmbalikan. akhirnya setelah saya paksa, dia kembalikan. tetapi tidak semuanya. hanya 5,5 juta yang dikembalikan. saya bilang ya sudahlah... Saya berpikir, kalau saya mengikhlaskan, Allah pasti akan berikan gantinya. Berita stoknya Ramadhan sangat mengejutkan dan membuat hati saya berduka. Dia adalah teman dekat saya. sahabat yang selama 5 tahun pergaulan, saya menaruh kepercayaan kepadanya.

Dua berita duka, mengingatkan saya kepada seorang sahabat saya. Saya tak ingin kejadian serupa menimpanya. Di setiap kesempatan saya menyelipkan doa untuknya, agar kiranya Allah tidak murka kepadanya.
Berita itu memberikan pengalaman batin yang sangat dalam bagi saya. Seolah mengirim pesan kepada jiwa saya, janganlah aa kejahatan dalam diri saya, sekecil apapun, kepada saudara sendiri. Meski hanya sebatas doa. Saya tak pernah mendoakan orang agar ditimpakan musibah, takut kalau-kalau doa itu malah berbalik. saya juga jadi takut berbuat jahat kepada orang lain. sebab Allah tidak pernah lengah, malaikat-Nya pun selalu mencatat apa yang saya lakukan.
Dan yang paling penting adalah bahwa tidak ada balasan dari kebaikan kecuali kebaikan dan begitu pula sebaliknya.

Dan pada saat ini pun saya sedang merasa ada yang berbuat jahat kpd saya, entah disengaja atau tidak. Saya terlibat transaksi dengan seorang sahabat yang sangat saya percaya. tak sedikitpun ada keraguan kepadanya tentang integirtasnya selama ini. aku percayakan uangku sebesar 70 jt kepadanya. tetapi ketika uang itu akan saya minta kembali, sampai sekarang belum berhasil saya minta. Kali inipun saya kembali tidak berdaya. hanya satu keyakinan saya. Bahwa Allah pasti akan memberikan kepada saya gantinya. entah dari mana asalnya.

Oleh karenanya, saya tak akan pernah berhenti berbuat baik kepada siapapun. ada kebaikan yang akan saya dapatkan dari perbuatan baik itu.
Kejadian-kejadian itu pun tidak menyebabkan saya tidak mempercayai siapapun. saya tetap percaya kepada siapapun. karena pada dasarnya tak seoangpun berkeinginan berbuat jahat kpd orang lain sebagaimana dia tidak ingin orang lain berbuat jahat kepadanya.

Ibaratnya, itu hanya setitik noktah, yang tidak adil kalau kejahatan yang hanya setitik itu menjadikan seluruh jiwa dan raganya dinilai tidak baik. kejahatan itu hanya menempati satu moment dari begitu panjangnya perjalanan waktu yang sudah dilewatinya. sungguh tidak adil kalau saya sampai menutup seluruh waktu dalam kehidupannya dengan kejahatan yang hanya setitik moment itu.
Wallahu a'lam bishowab.

Minggu, 13 September 2009

Kalau Kita Mau Minta, Allah Pasti Kasih

Jangan pernah putus asa terhadap rahmat dan kasih sayang Allah. Jangan pernah mengeluh tentang nasibnya yang mungkin (sedang) tidak baik. Apalagi membandingkan usaha dan ibadah kita di sisi Allah dengan nasib (buruk) yang sedang kita alami. Karena sesungguhnya nikmat yang Allah berikan kepada kita itu tidak ada hubungannya dengan amal ibadah kita. Artinya, Allah memberikan karunia-Nya bukan karena kita mengamalkan ini dan itu atau kualitas ibadah kita yang luar biasa. Allah itu Maha Pemurah. Bahkan Allah kasih kita makanan terbaik sebelum kita melakukan apapun untuk memujiNya. Tidak tanggung-tanggung, stok dua tahun Allah sediakan. Dia adalah air susu ibu. Seorang bayi yang belum mampu berbuat apa-apa dipersialkan menikmatinya selama 2 tahun. Saran para pakar bahkan, selama 6 bulan cukup dikasih ASI eksklusif dsaja, tanpa tambahan makanan yang lain.

Itu adalah bukti. Bukti bahwa tanpa diminta pun Allah kasih. Apalagi jika kita mau meminta kepada-Nya.

Ini adalah peristiwa yang pernah saya alami belasan tahun silam. Waktu itu saya masih duduk di kelas 2 SMA. Sebagai seorang anak remaja yang sedang mencari jati diri, apa yang saya anggap benar pada waktu itu pasti saya pertahankan sekuat tenaga. Hingga karena sikap ini, sering terjadi benturan antara anak dan orang tua. Apalagi kalau orang tua tidak mau tahu dengan kondisi anak yang seperti itu.

Singkat cerita, malam itu saya merasa menjadi orang yang paling traniaya. Tekad saya sangat kuat. Kabur dari rumah. Orang tua sudah tidak menganggapku sabagai anak, pikir saya waktu itu. Di antara tujuh bersaudara, saya adalah orang yang paling keras dalam bersikap kepada bapak. Tetapi sikap itu hilang sama sekali sejak saya kuliah di STAN dan ikut kajian dasar-dasar keislaman (KD2I) di kampus. Sikap saya berubah 180 derajat terhadap bapak. Saya menjadi orang yang paling halus tutur katanya, meski beda pendapat tetap tak berubah.

Kembali kepada peristiwa malam itu. Terjadi 'pertarungan' tak seimbang. Singkat cerita, saya hampir tak sadar. Termasuk benar-benar tidak sadar bahwa jam tangan hadiah dari kakakuu yang tadinya melingkar di tangan kiriku, sudah tak lagi di sana. Saya baru sadar setelah berjalan meninggalkan rumah cukup jauh. Tidak ingin kehilangan jam tangan tercinta, saya pun balik menuju TKP. Lama saya mencarinya. Di setiap jengkal tanah kucoba mencari. Hasilnya... nihil. Tidak ada. Tidak ketemu. Hatiku sangat sedih. Saya pun pasrah kepada Allah.

Malam itu saya urungkan untuk minggat dari rumah. Saya tidur di langgar dekat rumah. Sebelum tidur saya mengambil air wudhu dan melakukan sholat dua rakaat. Saya berdoa sambil menangis. Saya meminta kepada Allah agar mencarikan dan mengembalikan jam tangan saya. Setelah itu baru tidur.

Dalam tidurku saya bermimpi. Mimpi yang tak kan pernah lupa.
Dalam mimpi saya berjalan keluar langgar menuju TKP. Dengan sangat nyata saya melihat tangan saya mengambil jam tangan saya. Dan mimpi itu pergi begitu saja tanpa mengusik tidurku. Saya tetap tertidur sampai bangun sebelum orang-orang datang mau sholat subuh. Tanpa berpikir panjang, saya bergegas menuju TKP, mengikuti apa saya lihat di dalam mimpi.

Sungguh sangat luar biasa. Mimpi yang nyata. Saya pun menangis kembali. Tetapi bukan tangisan penderitaan. Ini adalah tangisan kegembiraan. "Terima kasih ya Allah, Engkau menjawab langsung permintaan saya," pikir saya pada waktu itu.
Sejak saat itu saya tak pernah ragu untuk meminta kepada Allah. Sejak saat itu, apalagi kemudian kuliah di STAN Prodip Keuangan Jakarta dan ikut KD2I, keyakinanku semakin bertambah, bahwa kalau kita mau minta kepada Allah, pasti Allah akan berikan. Makanya, apapun saya tak akan meinta kepada selainNya. Saya meminta sesuatu hanya kepada Allah melalui doa-doa saya.

Jangan pernah berpikir tentang logika ketika berdoa. Jangan pernah berpikir bagaimana cara Allah mewujudkan permintaan kita. Sebab Dia punya cara sendiri bagaimana mewujudkannya yang sering kali berbeda dengan yang kita pikirkan atau bahkan tidak pernah terpikir sama sekali. Wallahu a'lam bishshawab.

Jumat, 21 Agustus 2009

Mengapa Kita Mesti Menjadikan Diri Kita kalah, Padahal Allah Menetapkan Kita sebagai Pemenang?

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri resepsi pernikahan seorang teman. Resepsi dilakukan di rumahnya sendiri. Siang itu panas matahari menghujam ke ubun-ubun. Saya duduk di kursi sambil menahan panas. Di hadapan saya duduk orang yang sudah sangat berumur. Dia teman saya di kantor. Namanya Muhammad Seman. Dia duduk dengan sangat tenang. Seperti tidak merasakan panasnya matahari yang menyengat pada waktu itu. Saya mencoba membuka pembicaraan, sekedar mengisi waktu atau memang tidak enak kalau duduk berdekatan kok diem-dieman.

"Hari ini terasa sangat panas ya Pak?" tanyaku padanya, sambil tidak lupa tangan saya menarik-narik krah baju saya untuk memberikan angin bagian tubuh saya."

Tetapi jawabannya sungguh di luar dugaan. Jawabannya sungguh di luar dugaanku. Aku terdiam sejenaak memikirkannya. "Mas, memang susana sangat panas. Tetapi saya tidak merasakannya. Memang tubuh saya bercucuran keringat, tetapi saya tidak terpengaruh. saya tetap mersakan nikmat." Aku tertegun.

Ya benar. Sedih, senang, tdk nyaman, gembira, menderita dan semacamnya, sesungguhnya sangat relatif. Karena sifatnya yg relatif itu, bisa saja perasaan seseorang berbeda atau bahkan berlawanan dengan kondisi fisik yang terlihat oleh mata.

Sahabat...
Tidak satu pun manusia di dunia ini yang terbebas dari masalah. Semua pasti pernah atau bahkan saat ini sedang menghadapi masalah. Kalau kita sudah menyadari dan memahami seperti itu, pantaskah kalau masalah2 yang datang kepada kita menjadikan kita seperti orang paling menderita?

Ok. Anda mungkin beralasan bahwa masalah yang Anda rasakan sangat berbeda dari apa yang dialami oleh orang lain. Ini sangat berat. Sangat menyiksa batin Anda. Anda harus mengubah cara berpikir Anda. Agar Anda bisa mengubah derita itu menjadi sesuatu yang menyenangkan dan menentramkan batin Anda.

Ibarat anak sekolah, permasalahan yang Anda alami adalah sebuah ujian yang harus diselesikan untuk mengangkat level Anda.

Persoalan atau masalah, apapun bentuknya, adalah sarana bagi kita untuk meningkatkan kualitas kita. Ujian, kalau kita lulus, ya kita akan naik tingkat. Akan jauh lebih baik hidup kita dari sebelum ada masalah.
Atau masalah itu bisa jadi sebagai sarana Allah menghapus dan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Bisa jadi di masa lalu kita punya dosa atau kesalahan, dan Allah ingin meminta menebusnya saat ini, saat kita masih di dunia, sehingga tidak dipersoalkan ketika sdh di akhirat. Siapa yang tidak ingin dosa-dosanya diampnui dan dihapuskan oleh Allah? Anda senangkan kalau seluruh dosa Anda diampuni?

Atau masalah itu bisa jadi sebagai alat ukur, di mana ketinggian derajat kita hadapan Allah. semakin berat masalahnya, berarti derajatnya semakin tinggi di hadapan Allah. Berysukurlah anda jika Anda mempunyai masalah yang sangat berat. Sebab Anda telah ditempatkan oleh Allah pada kedudukan yang sangat tinggi. Bukankah pohon itu semakin tinggi, angin yang meniupnya juga semakin keras?

Atau bisa jadi masalah yang Anda hadapi itu sebagai alat seleksi dari Allah untuk memilih mana hamba-hamba yang terbaik menurutNya. Tantu Anda sangat senang bukan, jika Anda mendapat predikat baik dari Allah?
Yang pasti, persoalan dan ujian yang kita hadapi, bukan sesuatu yang tidak bisa kita atasi. Semua, apapun bentuknya, bisa diselesaikan. Tak perlu Anda merasa menderita. Atau putus asa. Allah tidak pernah menginginkan hamba-hambaNya mengalami kesulitan. Itu yang dikatakanNya di dalam kitab suciNya. Dan setiap kesulitan atau masalah yang kita hadapi, sesungguhnya disertai kemudahan-kemudahan dari Allah. cuma sering kali kita tidak bersabar mencari kemudahan-kemudahan yang mengiringi kesulitan itu.

Sahabat...
Sungguh, semua peristiwa ini bisa berdampak buruk atau berdamapak baik. Sangat tergantung bagaimana kita memandang setiap peristiwa yang kita alami.

Ingat...
Setiap kita pada dasarnya adalah pemenang...
takdir Allah telah menetapkan bahwa kita terlahir sebagai pemenang...
pernahkah kita merenungi mengapa Allah meciptakan berjuta sel sperma untuk memperebutkan satu sel telur sebelum kita dilahirkan ke muka bumi? Mengapa Allah tidak menciptakan saja satu sel sperma dan satu sel telur untuk menjadikan kita seperti sekarang ini. Jawabannya adalah: Allah ingin menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya kita semua terlahir sebagai pemenang....
tak ada satu peristiwapun yang bisa menjatuhkan kita pada kekalahan tak berdaya...
karena semua itu tergantung cara kita memandang semua peristiwa
seperti kawan saya yang orang tua itu...
seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw, bahwa sungguh menakjubkan sikap seorang muslim itu, jika dia mendapati nikmat kebaikan, bersyukur dan itu baik baginya, jika mengalami musibah maka ia bersabar dan itu baik baginya....

Kamis, 02 April 2009

Duhh...Bundaku, Air Matamu Mengalir Lagi..

Untuk yang kesekian kalinya hati saya menjerit kepada Allah. Bertanya seraya menghiba.. Oh.. Allah... belum cukupkah ya Allah, belum cukupkah ya Allah.. kasihani bundaku.

Linangan air mata tak bisa saya bendung. Hati saya miris, ratusan bahkan mungkin ribuan kali cobaan demi cobaan terus menerpa bundaku. Air mata nyaris kering karena kepedihan yang mendalam. Dan hari ini adalah hari ke delapan bundaku menderita. Situ Gintung telah menorehkan luka di hati bundaku dengan sangat dalam. Belum selesai proses evakuasi di sana, di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat ikut menorhkan luka.

Ya Indonesia adalah Bundaku tercinta. Dialah ibu pertiwiku. Tanah tumpah darahku. Jini menjadi negeri seribu satu bencana.
Sebagai seorang hamba, saya melihat ada yang salah di negeri ini. Dan kesalahan itu dilakukan oleh hampir semua lapisan penghuninya. Dari rakyat jelata hingga yang bertahta. Dari lapisan bawah hingga orang-orang berkehidupan mewah. Maksiyat secara transparan dilakukan di tengah-tengah masyarakat. Baik sendirian dan tersembunyi (bisa jadi) maupun bersama-sama dan terang-terangan. Sepertinya tidak ada upaya yang sungguh-sungguh untuk memperbaikinya. Padahal bencana demi bencana itu adalah peringatan, sinyal agar kita sadar hingga kita berhenti secara bersama-sama dalam melakukan kerusakan.

Sinyal-sinyal itu telah Allah kirim kepda bumi pertiwi setidaknya sejak tahun 1997. Saat itu musim kemarau melanda nusantara, hampir sepanjang tahun. Hasilnya.. kebakaran hutan di mana-mana dari Pulau Sumatera sampai Pulau Irian Jaya. Musibah selanjutnya bisa ditebak, kabut asap di mana-mana yang berakibat kecelakan besar beruntun baik di darat yang tak terhitung jumlahnya hingga laut dan udara. Dimulai dari jatuhnya pesawat boing 737 di Sibolangit, Sumatera Utara, dengan 400-an penumpang tewas, pesawat milik TNI terpelanting di Ambon, terus kandasnya Kapal Motor.

Musibah tidak berhenti, tetapi bangsa ini juga tidak segera menyadari. Maka Allah kirimkan sinyal-Nya kembali. Penyakit demam berdarah yang merenggut ribuan orang di seluruh nusantara. Puncaknya adalah rentetan kerusuhan teramat dahsyat yg melanda ibukota yang didului oleh kolaps-nya perekonomian bangsa ini.

Mestinya sampai di situ sudah cukup. Kita mesti segera sadar. Bahwa itu pertanda Tuhan sudah tidak berkenan dengan perilaku kita selama ini. Kita mestinya 'bosan' mendengarkan lagu Ebiet G Ade diputar terus. Kita ingin lagu-lagu ceria, lagu-lagu penuh optimisme berkumandang di negeri ini. Mestinya kita menyadari bahwa ternyata kerusakan telah terjadi di sekeliling kita dan dilakukan oleh hampir siapa saja di antara kita.
Setiap bencana besar pasti menyisakan kepiluan. Setiap Musibah yang dahsyat pasti menyayat hati bukan saja yang menjadi korban secara langsung, tetapi juga kepada kita.

Bencana tsunami Aceh adalah rentetan kepiluan yang selanjutnya sebelum diikuti oleh gempa bumi hebat di Jogjakarta serta 'batuk'nya gunung Merapi di Jawa Tengah.

Adakah perubahan kearah yang lebih baik terjadi pada bangsa ini? Kita sangat prihatin dengan semakin semaraknya bentuk kerusakan. Baik kerusakan fisik bumi maupun kerusakan kepribadian penghuninya. Tengok saja, pencuri jaman sekarang bukan hanya dilakukan dengan mencungkil pintu dengan linggis oleh orang tidak berpendidikan nan berbaju lusuh. Tetapi juga (bahkan didominasi) oleh orang-orang berpendidikan tinggi, punya jabatan juga tinggi dan berlomba-lomba membangun rumah berpagar tinggi. Lihat juga pergaulan anak-anak mudanya. Lihat juga birokrasinya. Amati juga para penegak hukumnya. Para wakil rakyatnya. Sempurna. 'Wajar' kalau Allah meminta 'sedikit perhatian' kita. 'Wajar' jika Allah kemudian memberikan pertanda akan kemarahan-Nya.

Situ Gintung dan Banjir Bandang di Kabupaten tanah datar, Sumatera Barat harus menjadi musibah terakhir bagi bangsa ini. Situ Gintung dan Tanah Datar harus menjadi penyebab terakhir mengalirnya air mata bumi pertiwi. Biarlah berlalu. Semoga yang menjadi korban ditempatkan di sisi Allah di tempat yang mulia. Keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran serta keluasan rizki dari-Nya.

Ebiet G Ade melalui lagunya menasihati kita. Agar kita melihat kepada diri kita sendiri. Untuk membersihkan hati dan pikiran kita. Agar kita bisa bertindak benar. Agar Bunda kita kembali bisa tersenyum, melihat anak-anaknya hidup bahagia.

Kita mesti telanjang
dan benar-benar bersih
suci lahir dan di dalam batin
tengoklah ke dalam
sebelum bicara
singkirkan debu yang masih melekat
singkirkan debu yang masih melekat
...
Wallahu a'lam bishshowab..

Kamis, 26 Maret 2009

Jangan Pernah Meremehkan...

Beberapa waktu yang lalu saya dinas ke Jakarta, karena alasan ekonomis - kalau sengaja pulang, ongkos terlalu banyak - saya ajak dua orang anak saya yang berumur 5 tahun dan 2 tahun. Selama saya di Kantor Pusat, keduanya tinggal bersama kakek (mertua saya), nenek dan amah (tante)nya di Mampang, Jakarta Selatan.
Selesai dinas, tentu saja saya langsung meluncur ke Mampang, bertemu dengan kedua anak saya itu, Jum'at pagi. Siangnya kedua anak saya merengek minta jajan. Biasa, namanya juga anak kecil. Apa yang ada di depan mata maunya dibeli. Kebetulan rumah mertua saya itu lokasinya di depan masjid, samping sekolahan (MI) dan di pinggir jalan. So pasti tukang jajanan dengan berbagai model berserakan di situ. Mau tidak mau ya harus mau, daripada menangis, mana ummi (ibu)nya jauh lagi. Saya antar mereka berdua. Apa yang mau mereka beli, saya hanya mngikuti dari belakang. kedua anak kecil itu rupanya menghampiri tukang mi. Eit... bukan mi ayam, bukan mis soto de el el. Tukang mi yang saya maksud adalah... seorang ibu setengah tua, menyajikan masakan mi (indomie, sarimie, atau sejenisnya lah... ) dengan sebuah gelas aqua. Satu bungkus indomie atau sejenisnya itu mungkin dibagi 3 atau berapa saya kurang tahu. dimasukkan ke dalam gelas aqua, dihargai seribu per gelas. Sejenak saya termenung. Beberapa kali saya mendengar celotehan orang-orang mengenai aktivitas penjual mi ini. Mulai dari yang katanya 'ngakali anak-anak' sampai pada soal alat penyajiannya.
Demi melihat sang penjual mie, hati saya berbicara lain. Pandangan saya juga menemukan sisi lain dari pada orang-orang yang pernah saya dengar komentarnya.
Inilah pandangan saya.
Saya menganggap aktivitasnya yang berjualan mi ini adalah wajar. Di ibu kota yang gemerlapnya menyilaukan banyak orang, semua aktivitas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kalau tidak pintar-pintar mencari uang, maka dia tidak mungkin bisa bertahan hidup di sana. Dia hanya berupaya memenuhi kewajiban, dengan segala keterbatasnnya, bahwa Allah tidak akan pernah menurunkan rizki dari langit. Semua harus berusaha, baru Allah akan mendatangkan rizki baginya. Ada yang mendapatkan sedikit karena usahanya yang sedikit atau kecil, ada yang mendapatkan sedikit meski sudah banyak berusaha, ada yang mendapatkan banyak meski hanya melakukan usaha yang sedikit. Semua tegantung situasi dan kondisi mereka.
Saya tidak pernah sampai hati untuk meremehkan apa yang dia (lebih tepatnya mereka - sebab masih banyak orang-orang sepertinya) lakukan. Bisa jadi sesuatu yang 'remeh' itu adalah suatu pekerjaan yang sangat mulia. Tahukah kita jika di antara mereka mungkin berusaha seperti itu demi menghidupi keluarga, istri/suami, anak, menantu, keponakan atau siapa saja yang menumpang hidup bersamanya. Uang seribu bagi sebagian kalangan mungkin tidak ada artinya. Namun bagi mereka... sungguh suatu rizki yang luar biasa. Bisa berarti (keselamatan) sebuah nyawa. Kumpulan lembaran uang dari pekerjaan 'remeh' itu adalah kumpulan nyawa yang berusaha ia selamatkan.
Memang secara fisik mereka tidak enak dilihat. Bikin kotor. 'Menciderai' kemegahan kota Jakarta. Tetapi, bisa jadi, mereka tidak sekotor lahiriyahnya. Bisa jadi mereka adalah mutiara-mutiara yang menjadikan ibukota begitu indah.
Seringkali pikiran kita terbelenggu oleh doktrin keindahan semu. Bahwa orang-orang seprti itu bikin tanah ini kotor. Seringkali kita tertipu oleh penampilan seseorang. Tampak oleh kita seorang yang begitu gagah perkasa atau cantik jelita. Pakaian selalu licin nan wangi. Kesana kemari di antar mobil merci. Tak pernah ada keringat yang menetes di dahinya. Tak pernah ada debu jalanan yang menempel di bajunya. Kita sering tertipu... bahwa banyak di antara mereka berhati kotor, bahkan lebih kotor dari baju-baju dan kemasan para penjual mi atau sejenisnya. Keserakahan tersembunyi di balik jas-jas kerennya. Nggak tahunya, belakangan mereka diciduk ka pe ka. Naudzubillah...
Inilah sebuah pelajaran. Memang bisa jadi para pedagang kecil semacam penjual mi 'kemasan' aqua gelas, bikin risih sebagian orang. Merugikan sedikit manusia. Tetapi mereka tidak sampai 'membunuh' banyak orang dengan keserakahannya. Bahkan bisa jadi mereka lebih mulia dari orang-orang 'mulia' itu.
Jangan pernah meremehkan mereka... jangan pernah...
Wallahu a'lam bishshowab.

Rabu, 04 Maret 2009

Satu Lagi Bukti Maha Kasih-nya Allah

Akhir tahun anggaran adalah saat-saat sibuk bagi kantor saya. Sibuk melayani permintaan pencairan dana APBN. Satker (satuan kerja) sukanya menunggu batas akhir waktu permintaan pembayaran. Kebiasaan umum bangsa ini. Padahal kalau direncanakan secara tertib dan rapi, pencairan dana APBN bisa dilakukan setiap bulan sepanjang tahun. Tapi yah, begitulah, sudah 'tradisi' susah diubah. Makanya tingkat emosional pegawai menjadi tinggi, terutama para bos.
Tahun 2008 merupakan tahun yang amat berat di sektor keuangan. Beban APBN menjadi membengkak gara-gara resesi dunia. Kepanikan tidak hanya dialami oleh para pengusaha (swasta), pemerintah pun dilanda hal serupa. Sementara satker-satker tidak melakukan penyerapan anggaran sesuai target.
Lalu dibuatlah mekanisme dan sarana agar satuan kerja melaksanakan penyerapan APBN secara optimal. Kantor pusat mmbuat aplikasi rencana dan realisasi anggaran (PERAN). kantor saya bertugas men-sosialisasikan aplikasi itu dan menghimpun serta melaporkannya ke kantor pusat. Dan tugsa itu jatuh ke pundak saya.
Program/aplikasi itu adalah program baru. Belum pernah ada sosialisasi. Tetapi karena perintah dan tuntutan tanggung jawab, saya pelajari dan saya laksanakan dengan sungguh-sungguh. Sering kali pekerjaan itu tidak selesai dlbuat dari pagi sampai sore. jadilah saya kembali ke kantor setelah mandi, makan dan tentu saja sholat maghrib. Sampai tengah malam saya kerjakan, sendirian. Tugas ini dikejar waktu. Dipantau langsung oleh bos. Tekanan mental sudah tentu sangat besar.
Kesungguhan saya dalam melaksanakan tugas itu rupanya belum memuaskan bos. Ada saja alasan untuk tidak puas atas hasil dari pelaksanaan tugas itu. Bahkan tidak hanya satu kali direndahkan di hadapan teman-teman kantor pada rapat kantor. Bagi saya, ini sudah risiko. Risiko mjd orang kecil. harus bersabar dan terus berupaya memperbaiki diri baik sikap maupun cara kerja. Meski tingkat emosi saya menjadi cukup labil dibuatnya. Apalagi ketika tahu di bulan Nopember, ada sosialisasi/pelatihan tentang tugas yang sedang saya kerjakan itu, yang dikirim ke Jakarta malah pegawai lain. Iri? Tentu tidak. Rizqi sudah ditetapkan oleh Allah bagian masing-masing. Saya juga tetap bekerja dg sebaik-baiknya. Sebab kalau tidak malah tambah parah. Tekanan itu. Teman-teman satu bagian pada tahu kondisi ini. Dan, alhamdulillah, saya tetap bisa bersabar. Saya yakin, kasih sayang Allah tidak akan pernah putus kepada hamba-Nya.
Dan benar. Akhir bulan Pebruari kemarin, ada pengumuman dari kantor pusat. Pelatihan jurnalistik, peserta diseleksi. Syaratnya mengirim satu buah tulisan tentang ekonomi atau tupoksi kantor. Saya mengirimkan tulisan tentang fenomena penyerapan APBN, aplikasi peran yang sempat menjadikan mental saya down. dalam hati, ketika menulis ttg itu, saya berkata, bisa jadi ini akan mengantar saya ke jakarta. Pekerjaan yang telah membuat hati dan tenaga saya lelah. Dan benar. saya akan berangkat karenanya. Dan benar. Allah telah membalas dengan limpahan kasih sayang-Nya kepada saya.
Pelajaran: bersabar terhadap apa saja yang menimpa kita seraya tetap menjaga komitmen. Insya Allah, hasil manis yang akan diperoleh.
Wallahu a'lam bishawab.

Pemberian Allah itu Sesuai Kebutuhan

Bulan September 2006 saya menginjakkan kaki di pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Bayangan saya sebelum berangkat adalah bahwa Kota Banjarmasin adalah bentangan hutan belantara. Tetapi nyatanya sudah menjadi Kota yang cukup maju. Bahkan kota ini hidup dua puluh empat jam. Ramai terus, terutama di jalan-jalan raya.
Beberapa hari pertama saya jalan-jalan mencari rumah tinggal. teman kantor mengajak keliling kota mencari perumahan demi perumahan. Yang saya menjadi heran adalah, kenapa hampir semua rumah di sini berbentuk rumah panggung. Di bawah rumah-rumah itu semua kolam atau rawa-rawa. Bukan besi bukan juga batu, penyangga rumah-rumah di Kota Seribu Sungai ini.
"Kayu penyangga itu namanya kayu besi. Namanya Kayu Ulin," kata teman saya seperti hendak menjawab keheranan saya. "Kayu Ulin itu tahan air sampai puluhan tahun mas. Meski terendam air dan tertanam di tanah, dia tidk akan busuk atau keropos sampai waktu yang sangat lama."
Yap. Pikiran saya bekerja. Hati saya bergetar. Keimanan saya bertambah. Allahu akbar. Allah Maha Besar. Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Tanah Kota Banjarmasin adalah tanah gambut. Tanah yang selalu berair, tidak pernah kering. Pasir dan semen tidak mungkin bisa digunakan untuk pondasi rumah. Kalau akan membuat rumag tembok dengan semen dan batu, maka tanah-tanah yang mau dipakai harus diurug. Butuh biaya puluhan hingga ratusan juta. Oleh karenanya Allah mendatangkan alat yang tepat yang tidak ada di daerah lain. Allah tetap memudahkan manusia untuk membangun rumah-rumah gedung megah, meski tanpa otot besi dan pasir, batu serta semen untuk pondasinya. Allah datangkan Kayu Ulin, kayu yang tahan tanah dan air, kayu yang tidak ada kecuali di Pulau Kalimantan.
Semua pemberian Allah kepada umat manusia adalah sesuai kebutuhan penerima.

Selasa, 03 Maret 2009

Mengharap Pertolongan Allah

Kemenangan kaum muslimin pada pertempuran di Lembah Badar adalah sebuah fenomena. Pertempuran tidak seimbang itu disaksikan oleh suku-suku di luar suku Quraisy. Mereka ingin melihat kekalahan kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah saw. Dari segi jumlah pasukan Rasulullah terlalu sedikit dibanding jumlah pasukan musuh. dari segi persejnataan, pasukan Quraisy jau lebih lengkap dan canggih untuk ukuran pada waktu itu. Namun yang terjadi adalah di luar perkiraan semua orang. Analisa para pengamat berantakan. Tidak ada yang benar.
Lain lagi peristiwa perang Uhud. Sejatinya Rasulullah menghendaki menunggu pasukan Quraisy di dalam Kota Madinah. Tetapi desakan sahabat-sahabat, terutama yang tidak ikut perang badar, membuat Nabi memutuskan akan menyonsong musuh di luar kota. Terjadilah perselisihan pendapat antara kelompok yang mendukung dan menolak keluar kota. Dengan dimotori oleh orang-orang munafik, perbedaan pendapat semakin parah. Puncaknya, dua ratusan orang menyatakan tidak melanjutkan perjalanan. Di antara mereka masih ada yang tetap bersama Rasulullah dengan segala keraguan dan keinginan mendapatkan ghanimah. Di dalam pasukan muslim tidak semuanya berdasarkan keyakinan yang kuat bahwa perjuangan ini adalah perjuangan untuk menegakkan kebenaran. Terselip motivasi lain di antara mereka, meski jumlahnya tidak terlalu signifikan. Tetapi cukup mengganggu soliditas jamaah pasukan. Hasilnya, 'babak pertama' perang Uhud, kaum muslimin mengalami kekalahan luar biasa. Bahkan Rasulullah hampir saja terbunuh.
Sehabis kejadian itu, Rasulullah lantas memanggil seluruh sahabat yang pernah berbaiat (berjanji setia dg beliau), selain mereka, tidak dipanggil oleh Rasul saw. Kesetiaan dan keimanan orang-orang ini tidak diragukan lagi. Bersama mereka Rasulullah saw mengejar pasukan Quraisy pimpinan Khalid bin Walid dan memporakporandakannya. 'Babak kedua' pun dimenangkan oleh Rasulullah bersama orang-orang pilihan.
Peristiwa Perang Hunain menyisakan pelajaran lain yang tak kalah berharga bagi kaum muslimin, pejuang kebenaran. Kepercayaan diri yang berlebihan, bahkan sampai pada tingkat takjub terhadap diri sendiri, meski hanya dari segelintir orang, telah mendatangkan malapetaka. Kaum muslimin yang jumlahnya jauh lebih banyak dari pasukan musuh, tercerai berai. Kekalahan telak terjadi di perang ini, kejadian yang sungguh tidak masuk akal mengingat jumlah pasukan yang dimilikinya pada waktu itu. Hingga akhirnya Allah SWT 'turun tangan' menghancurkan musuh-musuh-Nya.
Lain dari ketiga peperangan terdahulu, Perang Tabuk adalah karunia Allah yang tiada terkira atas pengorbanan dan kesungguhan kaum muslimin dalam menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya. Banyak terpampang kisah heroik dari seorang Umar bin Khattab yang menginfakkan setengah dari hartanya, atau Usman bin Affan yang menginfakkan seribu dinar secara sembunyi-sembunyi, atau bahkan Abu Bakar Assidiq yang tidak menyisakan sesuatu apapun untuk keluarganya kecuali Allah dan Rasulullah saw. Ada orang-orang yang tanpa berat hati menunda kesenangannya bersama istri baru dan buah-buahan yang siap panen di Kota Madinah 'sekedar' untuk menyusul Rasulullah saw bersama sahabat-sahabat yang hendak menghadapi perang Tabuk yang jaraknya lebih dari 300 km.
Kenyataannya, sesampai di Tabuk, tidak ada peperangan yang terjadi. Allah telah menundukkan penduduknya untuk berserah diri kepada Allah dan Rasulullah. Kesungguhan dan pengorbanan yang luar biasa dalam menyambut seruan Allah telah memberikan hasil yang manis. Pertolongan Allah datang tanpa diminta. Allah memenangkan hamba-hamba-Nya.
Di zaman sekarang, peperangan secara fisik tidak terjadi, dan mudah-mudahan tidak akan terjadi. Perjuangan menegakkan kebenaran dilakukan dengan cara lain. Perjuangan di jalur politik menjadi jalan yang dapat ditempuh saat ini. Akankah kebenaran terlindungi ataukah dipinggirkan tergantung hasil perjuangan politik ini. Dan kemenangan tidak akan pernah datang tanpa pertolongan dari Allah SWT. Dan pertolongan Allah tidak akan datang kepada mereka yang di dalam hatinya ada motivasi lain selain untuk memperjuangkan kebenaran. Tidak akan datang kepada mereka yang ada keraguan terhadap kekuasaan dan kesaan Allah SWT. Tidak akan datang kepada mereka yang tidak mau menunda kesenangan, mau bersusah payah menyambut seruan Ilahi. Tidak akan datang kepada mereka.
Kepada kita, kaum muslimin di blok mana pun kita berjuang, kalau masih ada sifat-sifat ini, jangan berharap datang pertolongan Allah SWT. Allah tidak berkepentingan deng an orang-orang yang hanya berjuang untuk kepentingan dirinya sendiri.
Selamat berjuang. Selamat menikmati pesta demokrasi 2009. Semoga Allah SWT membimbing kita.
Wallahu a'lam bishawab.

Senin, 02 Maret 2009

Mengharap Sebuah Harapan dari Pesta Rakyat

Untuk apa sebenarnya kita bekerja? Untuk apa sesungguhnya ketika seseorang dengan penuh semangat bercerita? Untuk apa orang terburu-buru mengejar bis kota, atau kereta, ata apa saja yang bisa mengantarkan ke tempat tujuan?
Jawaban semua sama: Harapan.
Yah. Apapun pekerjaan kita. Siapapun diri kita. Semua sedang menunggu datangnya sesuatu yang disebut harapan. Kita bekerja dengan baik dan ikhlas. tentu saja berharap dapat imbalan dari orang atau pihak yang mempekerjakan kita dan jangan lupa berharap mendapat pahala dan ridho Allah SWT.
Harapan adalah nyawa. Orang yang sudah tidak mempunyai harapan, hidupnya tidak akan bergairah. Sebuah tim sepak bola, jika sudah dipastikan gugur dalam sebuah kompetisi, maka semangatnya rendah, atau bahkan tidak ada keinginan untuk berjuang. Makanya, tim-tim seperti ini semakin tenggelam dalam kekalahan. Harapan harus tetap dipelihara. karena dia adalah nyawa bagi semangat kita.
Sama dengan kondisi bangsa kita yang tercinta ini. Ketika kondisi berbagai aspek kehidupan di negeri ini tidak menentu, jangan matikan harapan kita. Harapan untuk kehidupan lebih baik harus tetap terjaga. Siapapun kita harus berjuang. Sesuai kapasitas kita sebagai warga negara. Negeri ini harus kita cintai bersama, kita bangun bersama, meski tidak selamanya bersama itu bisa. Meski kita bukan siapa-siapa. Bukan pejabat atawa konglomerat. Tetapi kita tetap bisa berjuang menghidupkan harapan kita. Harapan untuk negeri ini lebih baik di kemudian hari.
Tidak ada sesuatu di dunia ini serba seratus persen. Seratus persen jelek atau seratus persen baik. Yang sangat mungkin adalah yang paling dominan. Apakah dominan baik atau dominan jelek.
Satu bulan lagi kita akan menabur benih-benih harapan. Harapan agar negeri ini lebih baik. karena kita tahu bahwa negeri ini harus dikelola. Adapun siapa yang berhak mengelola, ya mereka yang terpilih oleh pilihan kita. Ketika kita datang ke bilik suara untuk memberikan hak suara kita. Maka pada saat itu kita tengah menghidupkan harapan. Sebagai nyawa perjuangan agar negeri ini lebih baik.
Kalau menurut kita tidak ada yang baik dari calon-calon wakil kita atau calon-calon pemimpin kita, yakinlah bahwa, pasti ada orang-orang yang baik di antara mereka. Cuma kita belum mengenalnya. Atau kita belum mengetahuinya. Tidak semua jelek sebagaimana tidak semua baik. Atau minimal di antara yang jelek-jelek itu pasti ada yang paling baik, yang kepada mereka kita akan menaruh harapan kita.
Memintalah kepada Dzat Yang Paling Baik untuk memilihkan untuk kita. Pilihan Dia pastilah pilihan terbaik. Agar kita tidak salah pilih. Mari kita hidupkan harapan kita untuk negeri tercinta ini.
Selamat menyambut pesta rakyat 2009.

Senin, 15 September 2008

Saya Cinta Negeri Ini

Dua hari yang lalu kami kedatangan tamu istimewa. Dia seorang tauladan bagi para ibu. Dengan anak yang berjumlah selusin, beliau masih sangat energik. Berkeliling untuk memberikan pencerahan tidak saja di bumi pertiwi tetapi hingga ke manca negara. Tidak hanya itu, beliau juga terlibat aktif dalam medan perjuangan parlemen, menyuarakan kepentingan Islam dan juga perempuan.

Dia adalah Ustadzah Yoyoh Yusroh. Tamu dari markas dakwah pusat. Saya pernah i'tikaf di masjid Al Hikmah bareng anak pertama beliau. Waktu itu anak pertamanya banyak bercerita tentang dirinya dan umi abinya juga adik-adiknya yang berjumlah enam orang. Tahun 1993. Kalau nggak salah dia masih SD waktu itu, tetapi dari tutur katanya kelihatan lebih dewasa dari umurnya.

Ustadzah Yoyoh, membagi pengalamannya ketika pergi ke Timur Tengah, bertemu dengan ulama besar di sana, yang ternyata sangat memperhatikan negeri Indonesia tercinta. Salah satu yang beliau (ulama tersebut) kagumi adalah mengenai UUD 1945. Terutama dalam pembukaan, kalimat "bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan" dinilai oleh ulama tersebut menjadikan UUD 145 sangat istimewa. Di negerinya sendiri beliau berharap UUD-nya bisa diamandemen agar bisa meniru apa yang dilakukan oleh indonesia.
Ustadzah Yoyoh juga bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan anggota parlemen dari Australia. Salah satu negara yang sangat kencang menyuarakan kesetaraan jender. Beliau ditanya berapa jumlah perempuan yang menjadi anggota parlemen di Indonesia. Dijawab 14%. Anggota parlemen Australia itu menyampaikan keheranannya. Sebab di negaranya sendiri keterwakilan perempuan di parlemen tidak lebih dari 4%. Kenapa bisa begitu, tanya orang Australia. Beliau jawab, "Karena di Indonesia mayoritas muslim. Dan Islam sangat menghargai perempuan.” Saya jadi ingat saat itu, ketika ustadz saya bercerita, suatu saat Rasulullah saw sedang terburu-buru hendak mendakwahi para pembesar Quraisy. Namun di tengah jalan ada seorang nenek menghadangnya untuk bertanya kepada Rasulullah saw. Rasul pun menjawab pertanyaan itu hingga jelas. Rasulullah tetap memperhatikan kaum perempuan, bahkan meski dia ’hanya’ seorang nenek-nenek. Inilah keagungan Islam. Tidak membedakan laki-laki maupun perempuan, tidak membedakan apakah perempuan itu cantik atau tidak. Mereka mendapat perhatian yang sama.

Ya, di Indonesia kaum perempuan mendapat tempat yang cukup luas karena negeri ini dihuni orang-orang yang memiliki toleransi yang tinggi.

Ustadzah Yoyoh Yusroh banyak bercerita tentang apa yang beliau alami sebagai seorang aktifis perempuan. Beliau selalu berkeinginan memberdayakan kaum perempuan bukan memperdayakan mereka.

Menyimak ceritanya tentang pengalamannya, saya jadi berpikiran bahwa inilah nasionalis yang sesungguhnya. Bekerja dan berbuat tanpa memikirkan apa yang akan ia dapatkan dari negeri ini. Saya juga teringat ustadz saya dulu pernah menceritakan: Presiden Sukarno dengan lantang mengatakan bahwa karena kesuburan tanah dan kekayaan yang di miliki bangsa Indonesia, maka tidak akan dibiarkan penjajah menguasai bumi ini. Seorang ulama menanggapi bahwa meski Indonesia kering kerontang tidak memberikan hasil apa-apa, maka akan kami bela sampai tetes darah terakhir.

Saya berfikir, tidak semestinya antara nasionalis dan Islam itu di tempatkan berhadap-hadapan. Keduanya mestinya disandingkan. Karena sejatinya Islam tidak pernah bertentangan dengan nasionalis. Tidak ada permusuhan antara Islam dan Nasionalis. Kelahiran UUD 1945 yang sangat dikagumi oleh seorang ulama di Timur Tengah adalah salah satu bukti bahwa Islam dan Nasionalis tidak perlu dipertentangkan.

Terima kasih ustadzah atas kunjungan Anda. Kedatanganmu sangat berarti bagi kami, meski kami tahu engkau sangat sibuk dengan tugas-tugas dakwah di masyarakat dan di parlemen serta masih harus mengurus suami dan dua berlas orang anak, tapi kami tetap mengharap kehadiranmu di lain waktu.

Wallahu a’lam.

Jumat, 12 September 2008

Berbuat Baik Itu Menyenangkan

Kejadian ini memang sudah sangat lama, tapi bagi saya ini adalah salah satu pengalaman yang tidak bisa saya lupakan. Kala itu, tahun 1992, sehabis mengikuti UMPTN di ITB, saya melanjutkan perjalanan ke Jakarta, mencari peruntungan mengikuti seleksi masuk STAN Prodip Keuangan Jakarta. Pada waktu berada di terminal bis Pulo Gadung, ada seorang anak kecil, yah kira-kira umurnya sepuluh atau sebelasan tahun-lah, sedang menangis tersedu-sedu. Tidak ada yang mendekati, menegur atau menolongnya. Saya, sebagai orang kampung yang baru kali kedua saat itu menginjakkan kaki di Jakarta, mendekati dan menanyakan kenapa dan sebagainya. Akhirnya saya tahu bahwa anak tersebut menangisi hasil jerih payahnya berjualan berbagai macam makanan, minuman dan sejenisnya (asongan) yang dibawa kabur sesama pengadu nasib di Jakarta, orang yang lebih besar.

Uang tiga puluh ribu hasil kerja kerasnya selama berbulan-bulan hilang. Kata dia, sedianya mau dibawa pulang. Dia menangis karena uang hilang dan tidak bisa pulang kampung. Di kantongnya sudah tidak ada uang sama sekali. Saya tanya pulangnya ke mana? Dia menyebut sebuah daerah di Jawa Barat (saya lupa nama daerahnya).
Hati saya trenyuh. Tidak tega membiarkan anak kecil ini menangis. Saya tidak tahu ongkos naik kereta api dari Jakarta sampai ke rumahnya pada waktu itu. Yang saya tahu kalau saya, dari Magelang, Jawa Tengah ke Jakarta naik bis ekonomi empat ribu lima ratus rupiah.

Saya teringat nasihat guru Agama di SMA saya dulu, SMAN 1 Purworejo. Bapak Umar Ma’ruf namanya, memberikan nasihat agar berbuat baik kepada siapa saja, insya Allah doanya akan dikabulkan oleh Allah.

Saya ambil uang lima ribu rupiah, saya serahkan seraya memberi nasihat agar diam dan berhati-hati. Saya doakan semoga selamat sampai rumahnya. Saya tidak tahu namanya dia siapa, saya juga tidak memperkenalkan diri. Saya pikir tidak begitu diperluka. Saya juga bukan anak orang kaya. Diberi bekal oleh bapak saya untuk mendaftar di ITB Bandung dan STAN Jakarta. Ini adalah panggilan Allah. Pikir saya pada waktu itu. Biarlah, toh nanti saya bisa menemui kakak saya yang ada di Sukapura, Jakarta Utara.

Saya pun melanjutkan perjalanan menuju Sukapura naik Metro Mini jurusan Tanjung Priuk.

Hari-hari selanjutnya saya sibuk mengurusi pendaftaran di STAN yang kampusnya ada di Jurangmangu. Untuk sementara pertemuan dengan anak yang malang itu pun terlupakan. Hingga hari yang ditunggu tiba. Pengumuman UMPTN, saya lulus untuk pilihan kedua, Teknik Kimia Universitas Diponegoro Semarang, juga lulus seleksi untuk STAN Prodip Keuangan Spesialisasi Anggaran. Hari-hari selanjutnya saya kuliah, rupanya balasan kebaikan dari Allah itu datangnya begitu cepat.

Pertama, lulusnya saya di dua tempat adalah karunia-Nya. Kedua, saya dipertemukan dengan senior saya yang sangat perhatian, dicarikan rumah kontrakan dan juga guru ngaji. Saya pun ikut mentoring. Menikuti program mentoring, bagi saya, adalah sebuah nikmat, karunia sangat agung dari Allah SWT. Sepekan sekali saya mengaji, meski sembunyi-sembuyi pada waktu itu. Takut ada intel kata mentorku. Saya ikut mengaji dengan sangat senang hati.

Satu tahun kuliah saya lalui, di tingkat dua saya terpilih menjadi ketua kelas. Setiap ada tugas dari dosen untuk memfotokopi diktat bahan kuliah, saya sendiri yang memfotokopi untuk delapan puluh orang. Saya fotokopi di Mampang, Jl. Tendean yang mau ke arah Ma’had Al Hikmah, kampus kedua saya. Cari yang murah. Saya bawa sendiri dan saya bagikan sendiri, saya juga tidak mengambil selisih harga. Semua saya niatkan untuk beribadah. Umar bin khattab, khalifah kedua, juga memanggul sendiri gandum untuk diberikan kepada rakyatnya.

Pada waktu pelaksanaan mentoring untuk adik-adik kelas saya ikut membantu menjadi mentor, meski tidak terdaftar. Jadi tidak dapat ’honor’ mengajar dari panitia. Tetapi alangkah kagetnya (dan juga senangnya) saya pada waktu mau muraja’ah (setoran hafalan) di lembaga tahfidz Al Qur’an Al Hikmah Bangka II, Jakarta Selatan, ada seseorang mendekati saya dan menyerahkan bungkusan. Katanya, ini tanda terima kasih dari panitia mentoring (namanya waktu itu KD2I, Kajian Dasar-dasar Islam). Padahal rentang waktu antara pelaksanaan mentoring dan hari itu hampir satu tahun. Saya sendiri sudah lupa. Ketika saya buka ternyata isinya selembar kaos ospek dan uang sebesar dua puluh ribu rupiah. Saya jadi teringat firman Allah yang mengatakan, dan akan diberikan rizki yang tidak disangka-sangka.

Saya juga senang saja ketika diminta untuk membimbing satu kelompok adik-adik kelas di kampus, juga anak-anak es em a di Ujung Aspal, Pondok Gede, Bekasi dan anak-anak es em pe di Pancoran.

Pokoknya untuk kebaikan saya senang melakukannya. Rupanya karunia dari Allah itu datang kembali. Setelah saya menikah yang langsung dilanjutkan ’berbulan madu’ ke Kota Palu melaksanakan surat penempatan saya dari kantor pusat Ditjen Anggaran, Allah menunjukkan kemurahannya kepada saya. Sampai di Palu saya disambut senior saya yang saya tidak mengenal sebelumnya. Kebetulan juga beliau mau pindah ke Batam, jadi perkakas rumah tangganya diberikan kepada saya.

”Ini adalah rizki yang tidak di sangka-sangka yang diberikan Allah kepada saya,” pikir saya.

Rupanya Allah itu tidak pernah bosan memberikan kasih sayangnya kepada hamba-hamba-Nya. Ini saya rasakan ketika saya mengantar istri yang akan melahirkan di Jakarta. Selama di kapal dalam perjalanan Pantoloan (Palu) sampai pelabuhan Ujung Pandang, saya mendapat teman ngobrol. Kami sangat akrab, dia saya ajak untuk menikmati perbekalan kami. Kami naik kapal kelas ekonomi. Sampai di Ujung Pandang tidak ada sesuatu yang mecurigakan. Selepas pelabuhan dan melanjutkan ke Surabaya, ada sesuatu yang hilang. Istri saya membuka tas tempat menaruha uang tujuh ratus ribu, ternyata empat ratus ribuan hilang beserta cinci mahar nikah istri saya. Istri saya menangis, kami tidak terpikirkan bagaimana untuk ongkos melahirkan dan kembali lagi ke Palu. Tapi yah, apa boleh buat. Sudah hilang. Kita berusaha tabah dan mengikhlaskannya.

Kemurahan Allah datang lagi, pada waktu melahirkan, tidak keluar uang banyak. Hanya membayar tiga puluh ribu rupiah, istri saya melahirkan di puskesmas.

Dan rasa-rasanya kemurahan Allah itu datang hingga sekarang. Semoga saja tidak akan pernah putus.

Dan ternyata ... berbuat baik itu menyenangkan. Sangat menyenangkan.

Wallahu a’lam.

Kamis, 11 September 2008

Bukan Karena Kasihan

Beberapa waktu yang lalu saya dan istri saya pergi ke sebuah toko elektronik. Beberapa saat lamanya kami di dalam toko itu. Setelah selesai kamipun keluar. Seperti biasa di tempat parkir sudah ada tukang parkir yang menyambut kami. Saya ulurkan tangan saya memberinya uang lima ribuan. Si tukang parkir meminta uang pas, baru datang ini pak, katanya. Kebetulan juga kami tidak ada uang seribuan atau lima ratusan. Si tukang parkirpun menyerah. Dia tidak mau dibayar. Jadilah kami pulang, tanpa membayar uang parkir motor kami.
Sesampai di rumah istri berkata kepada saya, "Bi, kenapa ya kita tidak menyerahkan uang lima ribu itu kepada tukang parkir tadi. Itu kan namanya kita egois, hanya memikirkan diri sendiri. kan mestinya kitalah yang 'menyantuni' orang itu, bukan kita yang 'disantuni'. Dengan kita tidak membayar uang parkir kepada bapak tadi, berarti kita disantuni olehnya. Padahal kita lebih beruntung dari dia dalam hal penghasilan." Istri saya kelihatan menyesal sekali.
Kami berdua termenung memikirkan kejadian tadi. Biasanya kami kalau membeli sesuatu di warung-warung kecil atau pedagang-pedagang sangat kecil, kalau tidak ada kembalian, lima ratus atau seribu, kami selama ini sepakat untuk merelakannya. Atau bahkan setiap naik becak, atau ojek selalu kami membayarannya melebihi dari kesepakatan harga.
Tapi ini kasus baru. Tukang parkir. Padahal semestinya mereka mendapatkan perlakuan sama. Memang terkadang ada oknum-oknum tukang parkir yang berbuat jahat, tapi itu hanya oknum. Tidak semua tukang parkir seperti itu. Mereka bekerja membawa harapan. Ada sesuatu yang bisa dibawa pulang untuk istri dan anak-anaknya, yang mungkin sebelum ayahnya berangkat sudah ada janji terhadap anak-anaknya bahwa sepulangnya nanti akan dibelikan oleh-oleh.
Saya jadi teringat kisah tentang seorang pelacur yang dinyatakan masuk surga oleh hadist Nabi karena kepeduliannya terhadap seekor anjing yang kehausan. Peduli itu kepada siapa saja. Tidak perlu memilih-milih orang. Siapa saja yang membutuhkan, kepadanyalah kita mestinya kita berikan kepedulian itu. Di mana saja mereka berada. Entah meminta atau tidak.
Banyak diantara kita yang mempunyai kelonggaran rizki dari Allah, lebih memilih untuk membelanjakannya meski yang dibeli bukan sesuatu yang sangat dibutuhkan. Memang, itu sah-sah saja dilakukan, uang-uangnya sendiri. Tetapi rasa kemanusiaan kita mestinya bisa lebih terasah. akan banyak manfaat bagi orang lain uang sebesar seribu atau dua ribu yang bisa jadi tidak bermanfaat bagi pemiliknya. Dan, agar harta itu tidak hanya berputar pada orang-orang kaya saja.
Setiap kali saya lewat perempatan lampu merah selalu saya lihat tukang korang cacat sedang menawarkan korannya. Saya sengaja membelinya. Bukan karena sekedar kasihan tapi lebih dari itu. Usahanya yang maksimal wajib kita berikan apresiasi. Dan ini adalah ibadah kepada Allah.
Wallahu a'lam.

Rindu Kita Pada Kepedulian

Seorang teman bercerita, ada seorang ayah yang sangat sayang terhadap anak bayinya, selepas sholat Isya pergi mencari susu formula buat buah hatinya. Pada waktu itu negeri ini tengah dilanda krisis hebat. Salah satu barang yang hilang dari peredaran adalah susu formula untuk bayi. Lama dia berkeliling mencari barang langka tersebut. Di deretan produk bayi tidak nampak lagi barang yang dicari. Belasan toko besar kecil sudah dia masuki namun hasilnya tetapa sama. Kosong. Kekhawatiran mulai menjalar ke relung hatinya. Terbayang si kecil sedang menangis meminta susu. Kelopak matanya mulai menghangat. Dilihatnya jam melingkar di tangan kanannya. Sudah malam, bisiknya kepada dirinya sendiri. Toko-toko kecil sudah mulai pada tutup. Dijalankan motornya perlahan-lahan sambil kepalanya tengok kanan tengok kiri. Siapa tahu ada toko yang masih buka dan ada barang yang dicarinya. Yap! Masih ada toko swalayan mini yang masih buka. Pengunjung sepi. Hanya ada satu orang yang tengah melakukan pembayaran di kasir. Dia masuk ke toko tersebut. Kakinya langsung membawanya ke deretan produk makanan bayi. Alhamdulillah. Ada! Hatinya sangat gembira. Masih ada dua bungkus susu formula ukuran 400 gram. tanpa pikir panjang, dia ambil dua-duanya. Biar cukup untuk persediaan manunggu keadaan kembali normal. Kalau tidak diambil dua-duanya, pasti nanti akan sulit lagi mencarinya. Gumamnya dalam hati.
Dengan hati yang senang, dipacunya kendaraan menuju rumah. Ingin segera dia tunjukkan bahwa dia adalah seorang ayah yang baik.
Sesampai di rumah dia ceritakan usaha pencarian susu formula yang dia dapatkan dengan sangat susah payah tersebut.
"Bang, di toko tadi masih ada berapa bungkus bang?" tanya istrinya beberapa saat setelah sang suami selesai menceritakan pengalamannya.
"Sudah tidak ada lagi dik, tinggal dua ini saja. makanya abang ambil semuanya," sang suami bicara penuh bangga.
"Astaghfirullahal 'adziim," istrinya tertunduk. Matanya sedikit basah oleh air mata yang tak tertahankan.
"Kenapa dik, itu kan rejeki kita, rejeki anak kita dik." Suaminya sedikit heran.
"Bank," lirih suara istrinya. Dia dekatkan posisi duduknya kepada tempat duduk suaminya. "Seandainya abang hanya mengambil satu saja, pasti ada satu orang bayi lagi malam ini bisa minum susu. Bisa jadi di belakang abang ada seorang ayah yang baik lainnya seperti abang yang tengah mencari susu untuk anaknya. Tapi karena abang sudah mengambil dua-duanya, maka ayah yang malang itu pulang dengan tangan hampa. Bayinya pun malam ini tidak minum susu. Pasti kasihan sekali dia bang."
"Astaghfirullah..." sang suami termenung. Ada guratan penyesalan di wajahnya.
"Terus bagaimana dik?" lanjutnya bingung.
"Coba kita kembalikan saja ke toko tadi bang."
"Tidak mungkin. Sudah tutup, tadi saja pelayannya sudah bersiap-siap menutup pintu. sekarang pasti sudah tutup."
"Yah... malam ini kita harus memperbanyak istighfar bang sebelum tidur kita. Karena kita telah kehilangan rasa kepedulian kita di saat-saat kritis seperti sekarang ini..."
...
Saya tertegun mendengar cerita itu. Yah..., dunia yang semakin sempit telah mengikis sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Perlahan namun pasti, kepedulian itu kian sirna. Lihat saja di jalan-jalan raya. Para pengendara saling berebut untuk mengambil jalan terlebih dahulu. Tidak peduli keselamatan pengendara orang lain.
Orang sepertinya tidak rela kehilangan waktunya beberapa detik untuk sekedar memberi kesempatan seorang nenek renta untuk menyeberang jalan. Jangankan memberi kesempatan orang lain memotong jalannya untuk menyeberang, lampu merah saja dengan sengaja banyak yang dilanggar.
Keadaan memang lagi sulit, tetapi tidak sepantasnya kita tidak peduli terhadap nasib orang lain. Untuk membangun kembali negeri ini, diperlukan orang-orang yang peduli kepada orang lain. Peduli kepada sesama, yang itu adalah sifat dasar manusia. Manusia adalah makhluk sosial. Homo homini lupus. kata seorang pakar.
Wallahu a'lam.

Rabu, 10 September 2008

salam

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ibuku berpetuah: dalam semua keadaan kita harus selalu bersyukur.
Sebab kita tidak tahu apa lagi yang akan kita dapati. Yang kita tahu adalah bahwa Gusti Allah tidak pernah bermaksud buruk terhadap hamba-hamba-Nya yang bersyukur. Apa yang kalian dapat adalah karunia Gusti Allah, sekecil apapun karunia itu, kita anggap sesuatu yang besar. Syukur kita itu harus kita tunjukkan dengan kemauan kita untuk berkorban entah waktu, tenaga, kesenangan, harta atau bahkan nyawa untuk Gusti Allah, Rabb Pencipta dan penjamin hidup kita. Nah, pengorbanan itu, sebesar apapun menurut perasaan kita, harus kita anggap kecil di hadapan Gusti Allah. Sebab kita adalah seorang hamba. Tidak bisa hidup tanpa belas kasih sayang-Nya.
Mengenai idola, Bapak-ku memberi nasihat: Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini yang pantas untuk diikuti dan ditiru segala perkataan dan tingkah lakunya. Kacuali seorang yang berhati lembut, tidak pernah membedakan status sosial dan warna kulit dalam pergaulannya, tidak pernah berkhianat, kepada musuh sekalipun, tidak ada cela dalam akhlaknya, tidak ada orang yang pernah tersakiti oleh lisannya selama hidupnya, seorang pemimpin sejati, merasakan lapar seperti orang-orang yang dipimpinnya ketika mereka lapar, orang yang terakhir kenyang diantara orang-orang yang dia pimpin. Tidak pernah berlama-lama menahan harta yang mampir kepadanya, dia selalau bersegera membagi-bagikan kepada orang lain yang membutuhkan. Dialah Nabi Muhammad saw, manusia paling mulia sepanjang zaman. Allah dan para malaikat bershalawat kepadanya. Maka tidak ada alasan untuk kita tidak selalu melantunkan shalawat kepada beliau dari hati yang paling dalam.
Kakak saya menambahkan: Kita juga harus meneladani orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan cinta kepada Rasul. Cinta kepada risalah yang ditinggal Kanjeng Nabi. Yang cinta itu duwujudkan dalam perilaku keseharian sesuai tuntunan dan petunjuk yang beliau wariskan yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul.
Saya sendiri meyakini: Bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan. Pasti ada ujung dari perjalanan ini. Dan dalam perjalanan pasti membutuhkan perbekalan. Bekal yang cukup atau bahkan berlebih, maka nikmat ketika sudah sampai di tempat tujuan pastilah akan dirasakan. Nah ujung perjalanan kita adalah bertemu dengan Gusti Allah. Setelah bertemu kita akan menunjukkan bekal perjalanan kita masing-masing. Bekal yang baik pasti akan mendatangkan kasih sayang Gusti Allah, sebagai tujuan akhir perjalanan hidup kita. Tapi kalau bekal itu tidak ada atau bekal yang dibawa itu tidak baik, maka Allah pasti akan murka. Dan kemurkaan, dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia, tidak pernah berakibat manis. Kemurkaan selalu menghadirkan sengsara. Dan kemurkaan Allah saat itu akan dirasakan dalam masa yang sangat panjang, bahkan bisa jadi selamanya. Bekal yang baik adalah TAQWA. Menuruti apa yang dikehendaki oleh Allah. Yang diperintahkan kita jalankan, yang dilarang kita jauhi. Apa yang dicontohkan oleh Kanjeng Nabi kita amalkan, yang dilarang dan tidak dicontohkan kita tinggalkan.
Adik saya bertanya: Terus apakah kita tidak boleh bersenang-senang di dunia ini. Sungguh kasihan dong manusia kalau begitu.
Saya menasihati adik saya: Kesenangan itu adalah perasaan. Tidak ada sangkut pautnya dengan ada tidaknya harta pada diri kita. Tidak juga hadir dari sebuah kebebasan mengikuti hawa nafsu kita. Banyak orang yang tak berharta, tetapi mereka bahagia sepanjang hidupnya, hari-harinya selalu dihiasi dengan senyum merekah yang menyejukkan bagi siapa saja yang melihatnya. Kanjeng Nabi pun juga tidak meninggalkan sesuatu barang yang berharga ketika beliau wafat. Tetapi dalam hidup beliau selalu bahagia. Tidak bersedih karena ketiadaan harta benda. Beliau sedih jika melihat umat dalam ancaman api neraka.
Kebebasan juga bukan sumber kebahagiaan. Mengikuti aturan adalah sumber ketenangan, dan ketenangan hati itulah yang akan melahirkan kebahagiaan.
Jadi taat mengikuti aturan baik perintah maupun larangan Gusti Allah akan melahirkan kesenangan dan kebahagiaan. tergantung perasaan kita. Kalau kita rasa-rasakan berat, ya kita akan tersiksa. Tetapi kalau kita rasa-rasakan ringan dan menyenangkan, ya kita akan senang dengan setiap perintah dan larangan Gusti Allah yang berlaku pada kita.
Para Pembaca yang saya hormati. Melalui tulisan perdana ini saya ingin berkenalan dengan Anda sekalian. Semoga bisa menambah banyak teman untuk berbagi cinta dan kebaikan untuk kita petik manfaatnya di ujung perjalanan kita.
Salam Kenal. Bambang Kismanto alias Muhammad Ibadurrahman alias Muhammad Ibadinoor.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh